Monday, July 15, 2013

Mengenal Masjid Al Hilal-Katangka Makassar

Senin pertengahan November 2011, menjelang matahari tergelincir ke arah Barat, VERSI mampir ke Masjid Tua Al Hilal Katangka, masjid tertua dan pertama di Provinsi Sulawesi-Selatan. Dari angka tahun yang tertempel di dinding bagian luar masjid tertera angka 1603, berarti masjid tersebut telah berusia 408 tahun, bila kita berhitung dari tahun 2011.
Masjid Al Hilal Katangka, atau lebih populer Masjid Katangka. Masjid tertua di Sulsel.
Masjid Al Hilal Katangka, atau lebih populer Masjid Katangka. Masjid tertua di Sulsel.


Sehingga Masjid Katangka merupakan benteng di dalam benteng, benteng pertahanan bagi raja dan keluarga besar Kerajaan Gowa

Beberapa saat sebelum sholat Dhuhur dimulai, VERSI menyempatkan diri berkeliling mengamati suasana yang sepi di sekitar kawasan masjid yang didominasi cat putih itu. Sebuah  pelataran di bahagian belakang atau sisi timur masjid yang berlantai keramik dan dinaungi atap seng, disiapkan untuk tempat sholat bagi jemaah wanita pada saat ramai kegiatan peribadahan, seperti sholat tarwih atau sholat hari raya. Sementara di sekeliling masjid, terdapat sejumlah makam Raja Gowa dan keluarganya.
Sumur karamah Masjid Katangka. Dipakai wudhu, dipercaya sebagai obat awet muda.
Sumur karamah Masjid Katangka. Dipakai wudhu, dipercaya sebagai obat awet muda.
Tidak lama kemudian juru kunci masjid datang dan membuka pintu masuk masjid, VERSI uluk salam dan menyusul masuk dalam ruangan masjid. Terdapat sebuah ruangan yang harus dilalui sebelum memasuki ruang utama masjid. Di sudut ruangan sebelah kanan tersedia tempat berwhudu, dan disudut lainnya merupakan ruangan kosong yang tak begitu luas. Dari peralatan yang ada berupa bangku-bangku kecil, ruangan tersebut nampaknya dipergunakan oleh anak-anak usia SD untuk belajar mengaji dan bertadarrus. 

Masjid Al Hilal Katangka dulunya merupakan masjid kerajaan. Letak masjid berada di sebelah utara kompleks makam Sultan Hasanuddin. Lokasi makam  yang diyakini sebagai tempat berdirinya Istana Tamalate, istana raja Gowa ketika itu. Sebuah jalan yang dikenal sebagai batu palantikang, merupakan jalan yang sering dilintasi raja dan keluarga menuju masjid. Sebelum sampai masjid kita akan menjumpai sebuah sumur yang usianya jauh lebih tua dari masjid Katangka, namanya Bungung Lompo, sebuah sumur yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau melanda. Bungung ini dipakai oleh para prajurit Kerajaan Gowa mensucikan diri sebelum berangkat ke medan perang, dan setelah masjid tua Katangka berdiri, sumur ini kemudian menjadi tempat berwudhu para jamaah sebelum menunaikan sholat.

Suasana dalam masjid. Mengenang masa lalu.
Suasana dalam masjid. Mengenang masa lalu.
Selain ‘Bungung Lompoa’, di dinding utara luar masjid juga terdapat satu sumur lagi, sumur itu sama tuanya dengan masjid. Air dari sumur ini juga diyakini bertuah, bisa membuat awet muda bagi orang-orang yang berwudhu atau sekadar membasuh muka. Menunaikan sholat Dhuhur bersama sejumlah jamaah di masjid tua Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa itu, mengantarkan jiwa sejenak melayang ke masa silam. Betapa mesjid tua ini telah menjadi saksi sejarah untuk sekian banyak generasi, mulai generasi awal raja Gowa yang shalat di sana, yakni Sultan Alauddin beserta rakyat kerajaan dan tiga datuk dari Minangkabau yang dipercaya sebagai penyebar  Islam pertama di tanah Sulawesi, yaitu Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro dan Datuk Patimang. Lalu berlanjut pada generasi kedua, yakni Sultan Malikus Said, berturut-turut Sultan Hasanuddin, termasuk Syekh Yusuf Al Makassari, sampai kita, generasi era digital saat ini.

Bertindak selaku imam sholat Dhuhur adalah imam masjid Katangka yang merupakan generasi ketiga dari imam masjid pertama. Nama lengkapnya adalah HG Faisal Daeng Ngeppe, Lc, 38 tahun. Dg.Ngeppe diangkat sebagai Imam Masjid Tua Katangka sejak 2002 lalu. Selain imam masjid, Daeng Ngeppe juga menjadi Imam Kelurahan Katangka.

Juru kunci Masjid Katangka, Harun Dg. Ngella.
Juru kunci Masjid Katangka, Harun Dg. Ngella.
Masjid Al Hilal-Katangka, merupakan satu di antara tiga masjid tertua di Sulawesi Selatan. Dua yang lainnya adalah  Masjid Jami' di Kota Palopo, dan Masjid Taqwa Jerrae di Kabupaten Sidrap. Ketiga mesjid ini sama-sama berusia lebih dari 4 abad, dan memiliki kemiripan dari segi model. Salah satu ciri yang paling mirip dari ketiga masjid ini adalah model atapnya yang  menyerupai piramida, bentuk ini sudah pasti merupakan pengaruh kebudayaan Mesir. 

Bangunan mirip piramid itu juga terlihat pada makam-makam Raja Gowa yang berada di sekitar masjid. Pada pucuk atap dari ketiga masjid tua ini, selalu dipasang benda-benda tertentu. Seperti halnya Masjid Jami Palopo dan Masjid Jerrae Sidrap, dan setiap makam raja-raja Gowa  yang pucuk atapnya dipasangi guci, begitupula yang pernah terpasang di pucuk atap masjid tua Al Hilal-Katangka. Tetapi guci yang umurnya sudah ratusan tahun itu juga akhirnya menyerah oleh kerasnya gempuran waktu. 

Dari arsitektur masjid yang demikian itu, masyarakatpun meyakini bahwa arsitektur Masjid Tua Katangka sangat kental dengan pengaruh  kebudayaan asing. Hal itu dibenarkan oleh juru kunci masjid yang saat berbincang-bincang dengan VERSI memperkenalkan diri bernama Harun Dg. Ngella. “Memang beberapa perangkat yang terdapat dalam masjid ini merupakan buatan luar negeri,” ucap Dg. Ngalle.

Genteng masjid yang terbuat dari keramik berwarna merah itu dipastikan berasal dari Belanda, sebab di situ tertulis Stoom Pannen Fabriek Van Echt, dengan tahun pembuatan 1884. Genteng yang secara khusus didatangkan dari Belanda itu merupakan pesanan Raja Gowa I Kumala Daeng Parani Karaeng Lembang Parang, Sultan Abdul Kadir Muhammad Aididdin Tumenanga ri Kakuasanna.

Saat gerbang masjid mulai dikerja, 16 Juni 2010.
Saat gerbang masjid mulai dikerja, 16 Juni 2010.
“Masjid ini pernah memiliki koleksi kitab dan catatan yang berisi ilmu pengetahuan mengenai agama yang berusia tua dan berasal dari Arab, tapi banyak yang hilang dan telah musnah,” lanjut Dg. Ngalle.

Menurut Dg. Ngelle, sejumlah perangkat asli di masjid ini hilang dan musnah diakibatkan oleh dua kemungkinan, pertama boleh jadi karena dimakan usia, atau hilang akibat kemungkinan kedua, yakni perang. Saat perang berkecamuk antara Kerajaan Gowa dan Belanda, Masjid tua Katangka, berkali-kali dijadikan sebagai benteng pertahanan, ketebalan temboknya yang mencapai 120 centimeter dengan susunan batubata dalam posisi miring membuktikan kisah itu, bahwa Masjid Tua Katangka tidak sekadar tempat untuk sholat atau beribadah, tetapi inilah satu-satunya masjid di dunia yang sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan di masa peperangan.

Gerbang masjid selesai, 27 Agustus 2010.
Gerbang masjid selesai, 27 Agustus 2010.
Masjid tua Katangka didirikan di dalam areal Benteng Kalegowa yang berarti masih dalam kawasan Istana Tamalatea. Benteng Kalegowa merupakan benteng terkuat yang dimiliki Kerajaan Gowa pada masa itu. Rumah-rumah raja dan bangsawan dibangun dalam benteng ini. Dinding Masjid Tua Katangka dibangun dengan bahan yang sama dengan dinding Benteng Kalegowa. 

Menurut catatan sejarah, dinding Benteng Kalegowa dibuat dari susunan bata dengan posisi miring, tidak direbahkan sebagaimana posisi pemasangan batu-bata di zaman sekarang. Konon, untuk merekatkan bata tersebut hanya menggunakan telur dan kapur. Begitupula dengan konstruksi bangunan masjid dibuat sama dengan kontruksi bangunan benteng. Sehingga Masjid Katangka merupakan benteng di dalam benteng, benteng pertahanan bagi raja dan keluarga besar Kerajaan Gowa. Dg. Ngeppe menjelaskan, ketebalan dinding masjid mampu menahan serangan meriam atau bedil milik tentara Belanda. Serangan Belanda berhasil membumiratakan Benteng Kalegowa. Tidak sebata pun yang disisakan kecuali yang berada dalam dinding Masjid Katangka.

Tembok setebal 120 cm. Dibangun sekuat benteng pertahanan.
Tembok setebal 120 cm. Dibangun sekuat benteng pertahanan.
Fungsi masjid sebagai benteng juga diperkuat dengan ditemukannya meriam beserta pelurunya saat dilakukan penggalian di bagian halaman masjid. Meriam tersebut kemudian dipindahkan ke komplek Makam Sultan Hasanuddin di Pallantikang.

“Plafon masjid yang terbuat dari seng plat tebal dan berombak itu juga didatangkan dari Belanda,” kata Dg.Ngalle sambil menunjuk ke arah plafon masjid. 

Pada plafon itu terdapat lampu lampion yang digantung dengan menggunakan gantungan besi. Tetapi lampion itu tidak pernah lagi dinyalakan, Masjid Tua Al Hilal Katangka ikut menyesuaikan diri dengan zaman; bedug diganti dengan pengeras suara, lampion diganti lampu listrik. Bahkan enam unit pendingin udara (air conditioner) telah terpasang di sudut-sudut ruangan masjid, untuk menggantikan fungsi jendela sebagai sirkulasi udara.

Sebuah sumber menyatakan bahwa Dal adalah angka untuk tahun 1527. Apabila itu benar, maka usia mesjid Katangka yang sebenarnya adalah 76 tahun lebih tua dari yang sebenarnya

Konstruksi masjid Tua Katangka, bukan hanya dipengaruhi budaya Belanda dan Mesir, tetapi ada pula bagian masjid lainnya yang bernuansa China, itu dibuktikan dengan guci keramik buatan China yang pernah terpasang di pucuk masjid serta loster pada mimbar dan tempat berwudu.

“Masjid ini sudah berkali-kali dipugar dan direnovasi,” ungkap Dg. Ngalle, “tapi ada beberapa bagian masjid yang masih asli seperti mihrab masih tetap seperti ratusan tahun lalu, dengan lima anak tangga dan yang paling atas ditempati duduk oleh Khatib Jumat,” tambahnya menjelaskan.
Tombak (Lembing) di antara mihrab. Mengawal dan menjaga khatib saat membacakan khotbah di atas mimbar.
Tombak (Lembing) di antara mihrab. Mengawal dan menjaga khatib saat membacakan khotbah di atas mimbar.
Terlihat  dua lembing di sisi kiri kanan mihrab. Sebuah cerita unik mengenai keberadaan dua lembing di kiri dan kanan mihrab. Kedua lembing ini diikatkan bendera yang bertuliskan kalimat syahadat. Konon di masa lalu, setiap pelaksanaan sholat jumat di masjid ini, khatib yang bertugas membacakan naskah khotbah dikawal dan dijaga oleh dua prajurit Kerajaan Gowa. Dua prajurit bertombak itu bertugas mengawal dan menjaga khatib di atas mimbar, serta menghalau jemaah sholat jumat yang biasanya berlomba-lomba menggigit ujung naskah khotbah yang tengah dibacakan sang khatib.

“Waktu itu orang-orang percaya bahwa barang siapa yang mampu menggigit ujung naskah khotbah yang terbuat dari gulungan daun lontara, maka orang itu akan menjadi sakti dan kebal terhadap ujung senjata tajam jenis apapun,” kata Dg.Ngalle memulai kisahnya.

Akibat munculnya kepercayaan tersebut, maka sholat jumat selalu berakhir kacau oleh jemaah yang berebutan menggigit ujung naskah khotbah yang dibacakan sang khatib. Raja Gowa, I Mangngarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Alauddin, kemudian mengutus dua prajurit bertombak untuk menjaga dan mengawal khatib serta menghalau jamaah yang berebutan ingin menggigit ujung naskah khotbah itu. Lama kelamaan seiring pemahaman masyarakat Gowa terhadap Islam semakin baik, dan kepercayaan tersebut sedikit demi sedikit berangsur hilang, maka khatib tidak lagi dikawal oleh prajurit, namun replika lembing atau tombak milik prajurit kerajaan tetap di pasang di sisi kiri dan kanan mihrab.

“Adapun bendera yang bertuliskan lafadz ‘Lailaha Illalloh’ itu merupakan simbol bahwa agama Islam secara resmi telah dijadikan sebagai agama Kerajaan Gowa-Tallo ketika itu. Tapi lembing yang berada di sisi mimbar, sudah bukan asli lagi. Bagian mimbar yang terbuat dari kayu juga sudah diganti karena sudah lapuk dimakan usia,” ungkap Dg. Ngalle.
Ditopang dengan 4 pilar gendut yang kokoh.
Ditopang dengan 4 pilar gendut yang kokoh.
Masjid ini juga sudah berkali-kali direnovasi dan dipugar. Pada abad ke-19, lantai masjid bagian luar masih terbuat dari cetakan tanah merah dengan model yang sederhana. Lantai bagian dalam masjid dibuat dari semen licin. Namun kini, lantai masjid sudah diganti dengan tegel keramik. Atap masjid juga sudah mengalami beberapa kali renovasi karena gentengnya banyak yang retak.

Dari sejumlah prasasti yang ada di dalam masjid, dapat disimpulkan bahwa selama 408 tahun ini sudah terjadi sedikitnya tujuh kali perombakan atau renovasi. Prasasti yang dimaksudkan adalah berupa kaligrafi arab namun isinya berbahasa Makassar yang masing-masing terdapat pada bagian atas pintu, mimbar dan mihrab. Dg. Ngalle menjelaskan, kaligrafi itu memang berbahasa Makassar. Setiap kaligrafi menceritakan secara singkat tentang pembangunan atau renovasi masjid beserta tanggalnya. 

“Jadi kaligrafi itu semacam prasasti yang menandakan bahwa telah dilakukan pekerjaan ini, oleh si ini, pada tanggal ini, Perombakan pertama dilakukan pada tahun 1816 atas perintah Sultan Abdul Rauf. Perombakan ini meliputi penguatan dinding, ” jelas Dg. Ngalle.

Masih menurut Dg. Ngalle, renovasi tahap kedua dilakukan di masa Sultan Abdul Kadir Muhammad Aididdin, Raja Gowa XXXII, sekitar tahun 1886. Renovasi meliputi pengubahan posisi pintu dari arah Selatan ke arah Timur. Jendela juga diubah modelnya dari bentuk kubah memanjang menjadi segi empat seperti yang terlihat sekarang. Genteng yang didatangkan dari Belanda juga dipasang. Prasasti yang menceritakan mengenai renovasi kedua ini terdapat pada pintu utara, prasasti itu berisi tentang tanggal pelaksanaan renovasi pada hari Senin 8 Rajab tahun Dal, bertepatan dengan tanggal 12 April 1886. Sultan juga memerintahkan Karaeng Katangka untuk mengurus masjid bersama Tumailalang Lolo, Gallarang Mangasa, Gallarang Tombolo dan Gallarang Saumata.

Suasana belajar mengaji dan bertadarrus.
Suasana belajar mengaji dan bertadarrus.
Nama-nama yang disebut dalam prasasti tersebut adalah pejabat penting kerajaan. Tumailalang Lolo merupakan orang yang menjembatani Sultan dengan para dewan kerajaan yang dikenal dengan Bate Salapang. Sementara Gallarang adalah kepala wilayah yang berwenang menunjuk wakilnya menduduki Bate Salapang.

Sebuah prasasti lainnya menjelaskan pelaksanaan renovasi pada masa Raja Gowa XXXIII, Sultan Idris. Perubahan dilakukan dalam skala besar. Ini adalah renovasi ketiga. Dan renovasi keempat terjadi pada tahun 1963 berupa pemugaran oleh pemerintah. Pada tahun 1978-1980, konstruksi kubah yang berada di bagian depan dibongkar karena sering bocor. Kubah tersebut akhirnya dihilangkan.

Selain kaligrafi prasasti yang menjelaskan mengenai kegiatan renovasi, sebuah prasasti kaligrafi di pintu tengah juga menerangkan mengenai Sultan pertama yang melaksanakan salat Jumat bersama rakyatnya di mesjid tersebut. Diceritakan, setelah shalat Jumat, Sultan membagi-bagikan sedekah kepada rakyat yang ikut shalat serta para pekerja yang terlibat dalam pembangunan masjid. Sayangnya, prasasti yang satu ini tidak jelas waktunya, hanya melafalkan bahwa masjid dibangun pada bulan Rajab di tahun Dal, dan digunakan untuk pertama kalinya pada hari Jumat di tahun Ba. Apa itu tahun Dal dan tahun Ba, tidak ada seorangpun yang memahaminya secara pasti. Sebuah sumber menyatakan bahwa Dal adalah angka untuk tahun 1527. Apabila itu benar, maka usia mesjid Katangka yang sebenarnya adalah 76 tahun lebih tua dari yang sebenarnya. 

Halaman belakang Masjid Katangka. Komplek makam Raja Gowa dan keluarganya.
Halaman belakang Masjid Katangka. Komplek makam Raja Gowa dan keluarganya.
Sementara prasasti yang terletak di puncak mimbar, tempat khatib Jumat, menceritakan pembuatan mimbar itu sendiri. Artinya kurang lebih, "Mimbar ini pertama kali dibuat pada Hari Jumat tanggal 2 Muharram 1303 (Hijriyah). Karaeng Katangka dan Karaeng Loloa menuliskan, sudah ditentukan (oleh Nabi Muhammad SAW) barang siapa berbicara padahal khatib sudah berada di atas mimbar, maka dia tidak akan memperoleh pahala Jumat.

Menurut Imam Masjid, Daeng Ngeppe, aktivitas di Masjid Tua Katangka tidak banyak yang berubah. Selain tempat salat wajib berjemaah, juga menjadi tempat belajar agama. Sekali seminggu digelar pengajian bagi majelis taklim. Pada malam Jumat, juga dilaksanakan majelis dzikir. Setiap harinya, anak-anak belajar mengaji yang dibagi dalam tiga waktu belajar, pagi, siang, dan malam. Tak ketinggalan di saat bulan Ramadan tiba, aktivitas bertambah dengan salat tarawih berjemaah.

Masjid Katangka: benteng di dalam benteng.
Masjid Katangka: benteng di dalam benteng.













Seiring dengan renovasi, daya tampung masjid terus diperluas. Daeng Ngeppe memperkirakan saat ini masjid tersebut sudah bisa menampung sekitar 700-an jemaah. "Terakhir kita renovasi pada 2007 lalu. Bagian atasnya dibongkar karena konstruksi kayunya sudah lapuk di makan rayap," ujar Daeng Ngeppe. [V] Khairil Anas 
temukan kami di http://www.majalahversi.com


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Mengenal Masjid Al Hilal-Katangka Makassar Rating: 5 Reviewed By: Awaluddin Ahmad